Surgaku Surgamu

Tatkala Gemuruh Nan Ricuh

Saat sang surya datang memadu peluh

Gegap gempita langkah seakan tak berarah

Kegontaian yang melanda menerpa jiwa

Tiada aral nan panjang dalam luapan masa

Seakan sudah asa hilang tiada rasa

Namun…

Dekapan hangatmu perlahan membuat mataku sayu

Buaian kasih sayangmu menghangatkan dinginku

Setiap tetes air mata di pipiku

Penuh sabar Kau usap dalam pangkal jemarimu

Hati ini hilang tiada rasa

Rasa inipun melayang tanpa selera

Daku termangu…

Hinggap dalam benakku betapa berharganya aku

Betapa kau anggap aku ini di atas hartamu

Saat ku mengenal dunia

Saat kuberjabat dengan sahabat

Saat dosa mulai hinggap

Saat gelap mulai merayap

Pelita datang dalam aura kasihmu

Tanganmu ulurkan keselamatan untukku

Bagimu diriku adalah masa depan

Bagimu pula diriku adalah tabungan

Usai sudah..

Mata tak mampu menatap

Mulut pun tak dapat berucap

Jelang masa pemisah raga

Jelang tempat tak dukung berada

Telah jauh daku pada kebenaran

Semakin rentan diri menahan

Lampau telat ku teringat

Jauh sudah rasa hatiku

Kuberjalan tak ada bayangan

Sendiri tanpa tuntunan

Inilah saat ku melempar luapan panas dunia fana

Aku hidup dalam kematian

Aku melihat dalam kegelapan

Namun kutahu kau lah pelita harapan

Ibu..

Kutahu kau memandangku

Kutahu kau merasakan penyesalanku

Ibu..

Aku menyesal tapi ku tak thu bagaimana ku menyesali

Aku berdosa

Namun kutak tahu dimana pintu tobat berada

Kekalutan jiwa yang ku alami

Tak lain adalah semakin jauhnya ku pada Ilahi..

Ibu…

Tiada yang mampu menuntun dalam lorong kebenaran

Tiada yang mampu mengangkat dari jurang kenistaan

Tertutup sudah bayangan kelam

Tak pantas kumerenggut harapan

Ibu..

Tanpamu ternyata diriku hanyalah puing-puing luka dunia

Yang hanya berada di jauh lumbung kesesatan

Memandang elok kemaksiatan

Menghalalkan benih haram

Sadar sudah..

Kedekatan pada neraka tak ada yang menggugah

Tuntunan agama sirna lah termakan masa

Tak ada pula yang datang menebar bisikan hawa surga

Yang dibalut dalam kemasan kasih sayang

Ibu..

Bukanlah diriku yang berharga bagimu

Namun dirimulah yang tiada tara nilainya bagiku

Kau datang menepuk punggung yang telah berpaling

Kau menatap mata yang telah penuh gelap pandangan

Kau siram hati yang berkobar panas

Bertatih tatih

Berhembus kasih sayang

Penuh sabar kau antar daku pada penerang harapan

Menghadap eloknya jalan kebenaran

Membuka pintu kebahagiaan

Dalam sedihku di situlah dukamu

Dalam bahagiamu disitulah hatiku terharu

Dalam penderitaanku kau pun merasakan penderitaan

Tiada lain dalam hidup

Karna Surgaku Surgamu………….

Explore posts in the same categories: Poetry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: