“PARDI” in Action

Kesadaran berpikir kita terhadap penataan sosial perlu mendapatkan porsi yang cukup. Saat ini sadarkah kita bila kita berbeda?namun sadarkah pula jika kita adalah sama?Sadarkah jika kita hidup dan bersatu padu dalam wadah yang demikian rapi telah terstruktur?. Pemantapan pada prinsip dasar kehidupan yang pantas kita emban adalah sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Belum tentu hal semacam ini lantas kita pikirkan. Pada dasarnya kodrat kita sebagai bangsa yang memiliki dasar norma adalah menjunjung tinggi semangat untuk kritis dalam berpikir. Relevan dalam menerapkan tindakan. Dan sanggup dengan konsekuen untuk melaksanakan. Sebuah hal yang mustahil ketika kita mengetahui hal itu, kita renungkan dan kita pikirkan secara mendalam, kemudian tanpa satu pun jawaban kita memalingkan wajah kearah yang bukan semestinya kita lakukan.

Mendeskripsikan sebuah perbedaan amatlah sulit. Namun ketika persamaan itu ditonjolkan, bukan tidak mungkin akan menyirnakan rasa berbeda. Kita tekankan di sini adalah rasa, bukan perbedaan yang secara materiil kita lihatkan. Rasa berbeda, rasa sama dan rasa saling memiliki adalah kunci pokok pengembangan tanggung jawab mengemban visi persatuan bangsa. Bukan bangga, bukan suka, tetapi apakah suka akan selamanya? Keadaan duka juga tak kan berlarut dalam waktu yang lama ketika ada pembalut rasa duka tersebut.

Adalah perumusan yang sangat membutuhkan refleksi dari beberapa segi di saat memunculkan gagasan bangsa yang satu. Kita ingat bahwa kita adalah majemuk, kompleks dan berlapis-lapis elemen masyarakat yang menyusun kerangka hidup bangsa kita. Tidak perlu menunggu bola untuk mewujudkan cita-cita. Visi dan pandangan berfikir adalah pembahasan yang perlu dikaji mendalam. Ketika kita ada, barulah kita akan mulai menata. Di saat kita bangga di situlah kita menyimpan potensi duka.

Ingatlah suatu saat nanti ketika revolusioner telah hadir di tengah-tengah kita, ketika perubahan kultur mulai merjut masuk dalam dunia kita. Tatkala etika moral telah terabaikan lantaran tertindas dengan pembaharuan budaya. Akan tidak ada waktu lagi menyesali apa yang telah kita perbuat dan mengapa kita tidak berbuat. Ketika kita malu untuk mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, maka kita pun akan masuk ke dalam perangkap tikus yang berani hanya lewat belakang. Kita lihat kita hanya mampu mengendapkan pemikiran dalam kontekstual pembaharuan penegakan kebenaran hanya pada saat tidak ada orang. Hanya ketika semua tidak melihat kepada kita. Apakah berarti? BUKAN.

Explore posts in the same categories: Argumentation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: